BOGOR, (TB) -Di tengah derasnya arus globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi, pendidikan agama kembali menjadi perbincangan hangat di Kota dan Kabupaten Bogor. Lebih dari sekadar rutinitas belajar di kelas, pendidikan agama dipandang sebagai elemen krusial dalam pembentukan karakter, moral, serta integritas generasi muda.

Ustadzah Nurul Aini, seorang guru agama di salah satu sekolah menengah di Bogor, menekankan pentingnya pendidikan agama sebagai dasar pembentukan karakter.

"Pendidikan agama itu pondasi, bukan pelengkap. Karakter yang kuat berawal dari nilai-nilai yang tertanam sejak dini," ujar Ustadzah Nurul Aini.

Pendidikan agama tidak hanya sebatas menghafal ayat suci atau melakukan ritual ibadah. Tujuan utamanya adalah menanamkan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang. Selain itu, pendidikan agama juga berperan dalam membentuk akhlak mulia di lingkungan sosial, memberikan pegangan moral di tengah kebingungan identitas remaja, serta menjadi penyeimbang dari pengaruh negatif dunia digital.

Namun, pendidikan agama di era modern ini menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah menurunnya minat siswa terhadap pelajaran agama. Banyak siswa menganggap pelajaran agama membosankan karena metode pengajaran yang masih konvensional. Selain itu, pengaruh media sosial dengan konten-konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama juga menjadi tantangan tersendiri. Kesenjangan antara teori dan praktik juga menjadi perhatian. Sering kali siswa mampu menjawab soal-soal agama, namun belum mampu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan pendekatan pendidikan agama yang lebih kontekstual dan dialogis. Pembelajaran dapat dilakukan melalui kisah-kisah inspiratif (sirah, hikmah) serta integrasi nilai-nilai agama dalam seluruh aspek sekolah. Teladan nyata dari guru dan lingkungan sekitar juga sangat penting dalam membentuk karakter siswa.

Kiai Jajang, pengasuh pesantren di Bogor Barat, menyoroti pentingnya teladan dalam pendidikan agama.

"Anak tidak cukup diajari doa, tapi juga harus melihat bagaimana sabar dan jujur itu diterapkan di dunia nyata," kata Kiai Jajang.

Pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab guru di sekolah. Keluarga adalah madrasah pertama, dan masyarakat adalah tempat pendidikan karakter dilatih secara langsung. Peran aktif orang tua dan lingkungan sekitar sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak.