BOGOR – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3AI) yang tengah berjalan di Desa Banjarwangi, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, menjadi perhatian publik setelah muncul sejumlah tudingan terkait pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Beberapa isu yang mencuat antara lain dugaan penggunaan batu bekas, adanya rongga pada bangunan, proyek yang disebut diborongkan, hingga penggunaan waterdam yang dinilai tidak difungsikan.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Kelompok P3AI Desa Banjarwangi, Ade Salman, memberikan klarifikasi dan membantah seluruh tudingan yang beredar.

Menurut Ade, pelaksanaan kegiatan dilakukan secara swakelola dengan melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja, sesuai dengan semangat pemberdayaan yang menjadi tujuan program.

“Pak Pendi itu memang anggota kelompok kami. Jadi tidak benar jika disebut proyek ini diborongkan. Seluruh pekerja yang terlibat merupakan warga sekitar yang ikut berpartisipasi dalam pembangunan,” ujar Ade Salman kepada wartawan, Selasa (21/7/2026).

Ade juga menepis dugaan penggunaan material bekas pada pembangunan saluran irigasi tersebut. Ia menegaskan seluruh material yang digunakan merupakan material baru yang dibeli sesuai kebutuhan pekerjaan.

“Semua batu yang digunakan dibeli. Saya juga bingung kenapa muncul tudingan menggunakan batu bekas. Bekas dari mana? Semua material yang digunakan merupakan hasil pembelian untuk proyek ini,” tegasnya.

Sementara itu, salah seorang pekerja sekaligus anggota kelompok P3AI, Pendi, menjelaskan terkait adanya aliran air di sekitar lokasi pekerjaan yang sempat menjadi sorotan.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan berarti pondasi dibangun di atas aliran air, melainkan bagian dari upaya menjaga pasokan air bagi masyarakat yang masih membutuhkan, terutama di tengah musim kemarau.

“Airnya kami alihkan sementara ke samping karena masyarakat masih membutuhkan pasokan air. Apalagi saat ini sedang musim kemarau, sehingga kebutuhan air tetap harus diperhatikan,” jelas Pendi.