DEPOK – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan SMA IT Daarul Rahman III Kota Depok. Di tengah ketatnya persaingan Olimpiade Sains Nasional (OSN), dua siswa terbaik sekolah berbasis pesantren tersebut berhasil lolos seleksi Olimpiade Sains Nasional tingkat Kota (OSN-K) dan berhak melaju ke tingkat Provinsi Jawa Barat.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa sekolah tidak hanya fokus pada pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman, tetapi juga mampu mencetak peserta didik yang unggul dalam bidang akademik dan siap bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Dua siswa yang berhasil mengamankan tiket menuju OSN tingkat Provinsi Jawa Barat adalah M. Athaya Fayyadh pada bidang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Nafisah Alzhafirah pada bidang Biologi. Keduanya berhasil melewati proses seleksi yang kompetitif dan kini tengah menjalani persiapan intensif untuk menghadapi kompetisi tingkat provinsi.
Kepala SMA IT Daarul Rahman III, Miki, mengungkapkan rasa syukur atas capaian yang diraih para siswanya. Menurutnya, prestasi tersebut merupakan hasil dari kerja keras siswa, dedikasi para guru pembimbing, serta dukungan penuh dari seluruh keluarga besar sekolah.
"Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas capaian ini. Keberhasilan Athaya dan Nafisah menjadi kebanggaan bagi sekolah sekaligus bukti bahwa kesungguhan, disiplin, dan semangat belajar dapat menghasilkan prestasi yang membanggakan," ujarnya.
Ia menjelaskan, sekolah akan terus memberikan pendampingan dan pembinaan agar kedua siswa dapat tampil maksimal dalam seleksi tingkat provinsi. Menurutnya, OSN bukan sekadar ajang kompetisi akademik, tetapi juga sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, kreatif, serta membangun mental juang para peserta didik.
"Kami berharap prestasi ini menjadi awal dari pencapaian yang lebih besar. Tidak hanya lolos tingkat provinsi, tetapi juga mampu melangkah hingga tingkat nasional dan mengharumkan nama sekolah serta Kota Depok," katanya.
Sementara itu, Pimpinan Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman III Kota Depok, Hj. Qonita Lutfiyah, menilai keberhasilan tersebut merupakan buah dari proses pembinaan yang dilakukan secara konsisten antara pesantren, sekolah, guru, dan keluarga.
Menurutnya, prestasi akademik tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dibangun dengan kedisiplinan, ketekunan, dan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan.