JAKARTA – Utang PT PLN (Persero) kembali menjadi sorotan publik. Lembaga Center for Budget Analysis (CBA) mengungkapkan bahwa total utang perusahaan listrik milik negara tersebut terus mengalami peningkatan hingga mencapai ratusan triliun rupiah.
Koordinator CBA Jajang Nurjaman mengatakan, berdasarkan data yang dihimpun pihaknya, total utang PLN pada tahun 2024 mencapai Rp711,2 triliun. Angka tersebut meningkat Rp56,2 triliun dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar Rp655 triliun.
Namun setelah mencermati dokumen resmi perusahaan, Jajang menemukan angka yang lebih besar. Ia merujuk pada Surat Pernyataan Direksi tentang Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan Konsolidasi Interim per 30 Juni 2025 yang ditandatangani Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.
“Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa utang PLN pada tahun 2024 sebesar Rp734 triliun,” kata Jajang dalam keterangannya, Sabtu (14/3/2026).
Ia menambahkan bahwa berdasarkan laporan keuangan konsolidasi interim per 30 Juni 2025, total utang PLN kembali meningkat menjadi Rp740 triliun.
“Artinya dari tahun 2024 ke bulan Juni 2025 saja, utang PLN sudah naik sekitar Rp6,1 triliun,” jelasnya.
Menurut Jajang, kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius mengingat PLN merupakan perusahaan yang memonopoli layanan listrik di Indonesia.
“Ini PLN yang menguasai atau monopoli listrik di Indonesia. Kok bisa utangnya terus menumpuk. Masa baru enam bulan saja utang sudah naik Rp6,1 triliun,” ujarnya.
Selain persoalan utang, CBA juga menyoroti dugaan korupsi proyek migrasi unit pembangkitan listrik di PT PLN Indonesia Power yang saat ini tengah ditangani oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.