JAKARTA – Lembaga riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) memperkirakan potensi zakat fitrah nasional pada Ramadan 2026 mencapai 480,1 hingga 541,4 ribu ton beras, atau setara dengan Rp6,4 hingga Rp7,1 triliun.

Perhitungan tersebut didasarkan pada estimasi jumlah muzakki yang diperkirakan mencapai 192,0 hingga 216,6 juta jiwa, atau sekitar 80–90 persen dari total penduduk Muslim di Indonesia.

Peneliti IDEAS, Tira Mutiara, menjelaskan bahwa secara volume potensi zakat fitrah tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah muzakki.

“Secara volume zakat fitrah meningkat karena jumlah muzakki bertambah. Namun jika dikonversi ke nilai rupiah, potensinya justru menurun sekitar 5,5 hingga 6,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ujar Tira dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3/2026).

Menurut Tira, penurunan nilai tersebut dipengaruhi oleh turunnya rata-rata harga beras yang dikonsumsi masyarakat. Jika sebelumnya harga beras berada di kisaran Rp16 ribu per kilogram, kini rata-rata berada di sekitar Rp15 ribu per kilogram.

Selain faktor harga, IDEAS juga mencatat adanya pergeseran pola konsumsi rumah tangga, di mana sebagian masyarakat beralih dari beras premium ke beras dengan harga yang lebih terjangkau sebagai bentuk penyesuaian terhadap tekanan daya beli.

IDEAS juga mencatat penurunan nilai zakat fitrah paling besar terjadi pada kelompok muzakki kelas menengah atas. Nilainya diperkirakan turun dari sekitar Rp3,8 triliun pada 2025 menjadi Rp3,5 triliun pada 2026.

Tira menilai kondisi ini menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi mulai dirasakan oleh kelompok kelas menengah.

“Ketika kelas menengah mengalami tekanan, dampaknya tidak hanya pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga pada aktivitas filantropi. Kelompok ini selama ini menjadi salah satu kontributor penting dalam zakat, infak, sedekah, dan donasi sosial,” jelasnya.