PESAWARAN, (TB) - Siapa sangka, buah pala yang selama ini dikenal sebagai rempah, kini bisa bertransformasi menjadi camilan lezat sekaligus menyehatkan? Inovasi inilah yang sedang digarap Kelompok Tani Hutan (KTH) Wono Harjo di Desa Banjaran, Kecamatan Padang Cermin, Pesawaran, berkat sentuhan tangan dosen dan mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Sumatera (Itera).

Melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM), Itera memberikan pelatihan intensif kepada anggota KTH Wono Harjo untuk mengolah buah pala menjadi permen herbal yang memiliki nilai jual tinggi. Bayangkan, potensi buah pala yang melimpah di Pesawaran, kini memiliki masa depan cerah di tangan para petani kreatif!

Pelatihan yang berlangsung di Balai KTH Wono Harjo ini disambut antusias oleh para peserta. Mereka dibekali pengetahuan lengkap, mulai dari teknik pengolahan buah pala yang benar, cara menjaga kandungan bioaktif alaminya, hingga strategi pengemasan dan pemasaran produk lokal yang berkelanjutan.

Lebih dari sekadar pelatihan, kegiatan ini juga memperkenalkan prinsip ekonomi sirkular. Artinya, limbah hasil olahan pala tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan kembali sebagai bahan tambahan pupuk organik atau produk turunan lainnya. Sungguh sebuah solusi cerdas dan ramah lingkungan!

Maeda Wahyuningrum, S.Hut., M.Si., selaku ketua pelaksana kegiatan PkM Itera Tahun 2025, mengungkapkan bahwa potensi buah pala di Pesawaran sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan desa hutan.

"Melalui pelatihan ini kami ingin masyarakat mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi tinggi tanpa meninggalkan prinsip kelestarian hutan," kata Maeda.

Pemerintah Kabupaten Pesawaran pun menyambut baik inisiatif ini dan membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas, dan kelompok tani untuk mengembangkan inovasi produk unggulan yang dapat memperkuat ketahanan ekonomi desa.

Program ini didukung penuh oleh Itera melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2025, sehingga memungkinkan pelaksanaan pelatihan yang aplikatif sekaligus pendampingan lanjutan bagi masyarakat desa hutan. Ini bukan sekadar bantuan, tapi investasi untuk masa depan yang lebih baik.

Diharapkan, KTH Wono Harjo dapat menjadi contoh sukses pemanfaatan hasil hutan bukan kayu di Kabupaten Pesawaran. Dari buah pala, tercipta peluang ekonomi baru, lapangan kerja, dan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Inilah bukti nyata bahwa inovasi dan kolaborasi adalah kunci untuk membangun desa yang mandiri dan berdaya saing. (Oby)