DEPOK – Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret seorang pelatih voli berinisial A di Kota Depok terus berkembang. Setelah laporan dari orang tua korban berinisial Bil (12) diproses aparat penegak hukum, kini dua korban lain mulai berani angkat bicara.
Kedua korban, masing-masing berinisial Zul (19) dan Ar (18), mengaku mengalami perlakuan tidak pantas sejak masih aktif sebagai atlet muda di klub tempat pelaku melatih. Dugaan tindakan tersebut disebut terjadi berulang dalam kurun waktu cukup lama dan disertai tekanan psikologis.
Menurut pengakuan korban, pelaku kerap memanfaatkan kedekatannya sebagai pelatih untuk melakukan tindakan yang melanggar batas, baik saat sesi latihan maupun di luar kegiatan klub.
“Setiap latihan selalu ada momen dia mendekat. Kami sudah mencoba menghindar, tapi situasinya sulit karena dia pelatih kami,” ujar Zul.
Korban juga mengungkap bahwa dugaan pelecehan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di luar lingkungan latihan. Mereka mengaku pernah diajak ke rumah pelaku dengan alasan pembinaan teknik, namun justru mengalami pengalaman yang menimbulkan trauma.
Selain itu, korban menyebut adanya upaya kontrol terhadap kehidupan pribadi mereka. Interaksi dengan orang lain dibatasi dan kerap memicu kemarahan pelaku.
“Kalau kami terlihat dekat dengan orang lain, langsung dimarahi. Seolah-olah kami harus selalu patuh,” kata Ar.
Tekanan tersebut, lanjut mereka, diperkuat dengan adanya ancaman sehingga korban memilih untuk diam selama bertahun-tahun. Rasa takut dan kekhawatiran tidak dipercaya menjadi alasan utama mereka tidak segera melapor.
Zul dan Ar juga mengungkap bahwa dugaan kasus ini sebenarnya pernah disampaikan kepada pengurus klub dan pihak terkait sejak 2024. Namun, penanganan internal yang dilakukan saat itu dinilai tidak memberikan kejelasan maupun keadilan.