BOGOR – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN kembali mengingatkan pentingnya periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase krusial dalam tumbuh kembang anak. Periode ini dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun dan disebut sebagai “periode emas” yang tidak dapat diulang kembali.

Dalam edukasi yang disampaikan melalui media sosial resmi Kemendukbangga/BKKBN, dijelaskan bahwa otak bayi berkembang dengan sangat cepat pada masa awal kehidupan. Bahkan, setiap detiknya dapat terbentuk hingga satu juta koneksi saraf baru yang menjadi dasar kemampuan berpikir, belajar, berkomunikasi, memecahkan masalah, hingga berempati.

Tidak hanya faktor genetik, kualitas perkembangan otak anak juga dipengaruhi oleh lingkungan, asupan gizi, serta stimulasi yang diterima sejak dalam kandungan hingga usia dini. Karena itu, perhatian orang tua terhadap kesehatan ibu hamil, kecukupan nutrisi, serta interaksi positif dengan anak menjadi investasi penting bagi masa depan mereka.

BKKBN juga menjelaskan bahwa pembentukan struktur otak telah dimulai sejak dalam kandungan. Lipatan-lipatan otak yang secara ilmiah dikenal sebagai sulci dan gyri mulai berkembang pada usia kehamilan sekitar 24 hingga 40 minggu. Struktur tersebut berperan penting dalam menentukan kemampuan kognitif, bahasa, dan kesiapan belajar anak di masa mendatang.

Menurut BKKBN, setiap pelukan, tatapan mata, komunikasi sederhana, hingga pemberian gizi yang tepat merupakan bagian dari stimulasi yang membantu membangun fondasi perkembangan anak. Oleh karena itu, keterlibatan aktif ayah dan ibu sangat dibutuhkan dalam mendukung tumbuh kembang optimal anak sejak dini.

Momentum peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bagi seluruh keluarga Indonesia bahwa investasi terbaik untuk generasi masa depan dimulai dari perhatian terhadap 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Anak-anak yang mendapatkan gizi, kasih sayang, dan stimulasi yang memadai sejak awal memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing di masa depan.

Pemerintah melalui berbagai program percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas keluarga terus mendorong kesadaran masyarakat agar menjadikan 1.000 HPK sebagai prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.


Sumber BKKBN