BANDUNG – Ancaman itu datang dalam ruang sempit sebuah mobil. Pintu tertutup rapat. Suasana mendadak tegang. Di hadapannya, sebuah senjata api diperlihatkan sebagai pesan agar sebuah pemberitaan dihentikan.
Bagi sebagian orang, pengalaman seperti itu mungkin cukup untuk membuat langkah mundur. Namun tidak bagi Susanto. Wartawan yang telah mengabdikan diri di dunia jurnalistik selama hampir dua dekade itu memilih tetap berdiri di jalur yang diyakininya: menyampaikan fakta kepada publik.
Kisah tersebut ia ungkapkan saat mengikuti kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat di GOR Wartawan, Buah Batu, Kota Bandung, Rabu (24/6/2026).
Di sela-sela kegiatan, pria kelahiran Lampung, 49 Tahun lalu itu membuka kembali lembaran perjalanan panjangnya sebagai jurnalis. Sebuah perjalanan yang tidak selalu mudah, namun penuh pelajaran tentang integritas, keberanian, dan tanggung jawab profesi.
Berawal dari Jejak Sang Kakak
Dunia jurnalistik hadir dalam hidup Susanto bukan karena cita-cita masa kecil. Jalan itu justru terbuka dari lingkungan keluarga.
Sekitar tahun 1999, saat Indonesia memasuki era Reformasi dan kebebasan pers mulai menemukan ruangnya, sang kakak terlebih dahulu terjun ke dunia media. Dari situlah Susanto mulai mengenal kehidupan wartawan.
Ia kerap mengikuti aktivitas peliputan dan melihat langsung bagaimana sebuah berita diproses, mulai dari pencarian informasi hingga diterbitkan kepada publik.
"Karena kakak saya lebih dulu menjadi wartawan, Saya jadi sering melihat bagaimana mereka bekerja. Menurut saya itu menarik," kenangnya.