Penulis: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ.
JAKARTA, (TB) – Gedung Persatuan Guang Zhao Seluruh Indonesia di Jalan Pinangsia I No. 49, Taman Sari, Jakarta Barat, hari ini menjadi saksi bisu peringatan 620 tahun pelayaran Laksamana Zheng He (Cheng Ho) ke Laut Barat.
Peringatan yang diinisiasi oleh Kelompok Pertukaran Ekonomi dan Perdagangan Warisan Budaya Takbenda Sabuk dan Jalan Tiongkok ini dihadiri oleh berbagai kalangan, menyatukan mereka yang merasakan dampak langsung dari pelayaran legendaris tersebut.
Acara ini bukan sekadar seremonial, melainkan refleksi atas warisan budaya yang hingga kini masih terasa pengaruhnya di Indonesia dan Asia Tenggara.
Para pembicara ternama dari Tiongkok dan Indonesia turut memeriahkan acara ini, memperkaya diskusi dan pemahaman tentang ekspedisi Zheng He.
Haris Chandra membuka acara dengan sambutan yang inspiratif, disusul oleh pemaparan dari Mrs. Song Zhuowei, Mr. Han Shengbao, Mr. Maokun Ahong, Mr. Huangda, Mr. Chen Riling, dan Mr. Budi S Tanuwibowo. Fiona Yuan bertindak sebagai MC yang piawai, dibantu oleh Moktar Pamungkas sebagai penerjemah.
Lebih dari sekadar pencapaian maritim, pelayaran Zheng He merupakan tonggak penting dalam pertukaran budaya antara Tiongkok dan Nusantara.
Seni pertunjukan seperti Opera Nanjing, yang dibawa oleh awak kapal Zheng He, telah beradaptasi dan berkembang di Indonesia, menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah budaya lokal.
Alunan Nanyin, musik tradisional Tiongkok, menghubungkan kita dengan sejarah Tiongkok yang kaya dan beragam, sementara pengobatan tradisional Tiongkok, yang diperkenalkan oleh para dokter dalam armada Zheng He, masih dipraktikkan hingga saat ini.
Kepemimpinan Laksamana Zheng He juga menjadi sorotan utama. Keberhasilannya bukan hanya karena kekuatan armada yang besar, tetapi juga karena strategi diplomasi yang cerdas dan pendekatan yang bijaksana.
Salah satu pembicara, Mr. Han Shengbao, menyoroti lima kunci kepemimpinan Zheng He: diplomasi yang kuat, penggunaan kekuatan yang terukur, pentingnya intelijen, fleksibilitas strategi, dan pemanfaatan jaringan. Kelima aspek ini menunjukkan kecerdasan dan kejelian Zheng He dalam memimpin ekspedisi besar dan kompleks tersebut.
Diplomasi menjadi prioritas utama Zheng He. Ia memprioritaskan negosiasi sebelum menggunakan kekuatan militer, membawa dekrit kekaisaran dan hadiah sebagai simbol persahabatan. Penggunaan kekuatan militer hanya sebagai upaya terakhir menunjukkan pendekatannya yang damai dan bijaksana.
Ketepatan informasi intelijen yang dikumpulkan sebelum ekspedisi menjadi kunci keberhasilannya dalam bernavigasi dan berinteraksi dengan berbagai budaya di sepanjang jalur pelayarannya.
Fleksibilitas strategi Zheng He juga patut diapresiasi. Ia mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan menyesuaikan pendekatannya berdasarkan kondisi setempat.
Kemampuan adaptasi ini menjadi kunci keberhasilannya dalam menjalin hubungan baik dengan berbagai kerajaan dan komunitas di Asia Tenggara.