LEBAK – Di tengah arus modernisasi pertanian, masyarakat adat Desa Guradog, Kecamatan Curugbitung, Kabupaten Lebak, tetap teguh menjaga tradisi leluhur melalui panen raya padi di sawah adat (sawah tangtu), Sabtu (18/4/2026).
Panen raya ini bukan sekadar aktivitas pertanian, tetapi juga menjadi simbol ketahanan budaya sekaligus penguat solidaritas sosial masyarakat adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Dengan menggunakan alat tradisional dietem, warga memanen padi secara manual—cara yang hingga kini tetap dipertahankan sebagai bagian dari kearifan lokal. Suasana kebersamaan begitu terasa, saat masyarakat bergotong royong di sawah, memperlihatkan nilai kolektif yang masih hidup kuat di tengah perubahan zaman.
Pemangku Adat Kasepuhan Guradog, H. Rahmat, menyampaikan rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh tahun ini. Ia menegaskan bahwa tradisi panen bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan adat.
“Alhamdulillah, panen raya di sawah adat ini berjalan lancar. Harapannya membawa keberkahan dan terus menjaga warisan leluhur kami,” ujarnya.
Senada, Kepala Desa Guradog, Jaro Amok, menilai kegiatan ini memiliki dampak lebih luas, tidak hanya pada sektor pertanian, tetapi juga dalam memperkuat persatuan masyarakat.
“Panen raya ini bukan hanya soal hasil tani, tapi juga mempererat kebersamaan dan kekompakan warga,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Muspika, tokoh adat, serta Bhabinkamtibmas sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi lokal.
Berdasarkan pantauan di lapangan, antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Panen raya menjadi ruang interaksi sosial sekaligus sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap mengenal dan melestarikan budaya leluhur.