Ciawi, BOGOR24JAM.COM – Pemerintah Kabupaten Bogor menghadapi tantangan serius dalam upaya penanggulangan HIV-AIDS. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, kasus HIV di daerah ini terus menunjukkan tren peningkatan, khususnya di kalangan remaja.

“Angka ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Muksin Zaenal Abidin, Ketua Lembaga Kajian Strategis (LEKAS), dalam kegiatan Diklat Pembentukan Kelompok Remaja Peduli HIV-AIDS yang digelar di Aula Universitas Djuanda, Minggu (27/7/2025).

Muksin mengungkapkan bahwa Kabupaten Bogor kini menempati posisi kedua tertinggi kasus HIV-AIDS di Jawa Barat. Lebih mengkhawatirkan lagi, tren peningkatan justru terjadi di kelompok usia muda.

“Data triwulan pertama 2025 mencatat sebanyak 216 kasus HIV berasal dari kelompok usia 15–24 tahun. Secara nasional, kelompok usia ini memang menjadi perhatian utama,” ungkapnya.

Ia merujuk pada temuan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, yang menunjukkan lebih dari 1.900 remaja usia 15–24 tahun terdeteksi positif HIV.

“Peningkatan ini dipicu oleh rendahnya pengetahuan remaja tentang HIV-AIDS, perilaku seksual berisiko, dan terbatasnya akses terhadap informasi serta layanan kesehatan yang ramah remaja,” jelas Muksin.

Menurutnya, STBP juga mencatat bahwa banyak remaja masih memiliki pemahaman keliru tentang cara penularan dan pencegahan HIV. Hal ini menjadikan remaja sebagai kelompok yang rentan tertular.

Namun di sisi lain, remaja juga dianggap sebagai agen perubahan yang potensial. “Jika dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, mereka dapat menjadi pelopor dalam kampanye pencegahan HIV-AIDS,” lanjutnya.

Melalui Diklat Remaja Peduli HIV-AIDS, LEKAS bersama para mitra berharap dapat membentuk jaringan remaja yang aktif menyuarakan edukasi seputar HIV-AIDS, baik di lingkungan sekolah maupun komunitas mereka.