DEPOK – Peringatan Hari Kartini setiap tahun kerap diwarnai dengan kebaya dan seremoni simbolik. Namun di balik itu, esensi perjuangan perempuan dinilai masih belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan nyata.
Anggota DPRD Kota Depok dari PPP, Qonita Lutfiyah, menegaskan bahwa Hari Kartini seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan seremonial.
Menurutnya, Raden Ajeng Kartini merupakan simbol perubahan cara pandang terhadap perempuan, terutama dalam memperjuangkan akses pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan.
“Semangat Kartini adalah keberanian untuk melampaui batasan. Itu yang harus terus kita hidupkan,” ujar Qonita.
Meski saat ini perempuan telah memiliki akses yang lebih luas, ia menilai perjuangan belum sepenuhnya selesai. Berbagai tantangan masih dihadapi, mulai dari stereotip gender, ketimpangan peluang kerja, hingga minimnya keterwakilan perempuan di posisi strategis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih berada di kisaran 56–57 persen hingga awal 2026, yang menunjukkan kesenjangan dibandingkan laki-laki masih cukup signifikan.
“Persoalan hari ini bukan hanya membuka akses, tetapi memastikan perempuan mendapatkan kesempatan yang setara secara kualitas,” jelasnya.
Qonita menekankan bahwa pendidikan menjadi fondasi utama dalam melanjutkan cita-cita Kartini. Perempuan yang berpendidikan dinilai mampu menjadi agen perubahan, baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kemajuan dan nilai moral serta spiritual.