BOGOR, (TB) – Wacana penambahan mata pelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI) dalam kurikulum pendidikan Indonesia mulai mengemuka. Langkah ini dianggap sebagai upaya pemerintah mempersiapkan generasi muda menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Namun, pertanyaan mendasar muncul: apakah sekolah dan guru kita sudah siap, atau justru kebijakan ini menambah beban baru bagi pendidikan nasional?
Urgensi Coding dan AI
Tidak bisa dipungkiri, keterampilan digital kini menjadi kebutuhan mendasar. Negara-negara maju seperti Korea Selatan, Singapura, dan Jepang sudah memasukkan coding sejak jenjang dasar. Indonesia tidak boleh tertinggal jika ingin melahirkan SDM unggul yang mampu bersaing secara global.
Tantangan Implementasi
Namun, semangat ini berhadapan dengan sejumlah kendala. Pertama, kesiapan guru masih sangat terbatas. Mayoritas tenaga pendidik belum memiliki keterampilan coding dan AI. Kedua, ketimpangan infrastruktur masih nyata. Banyak sekolah, terutama di daerah, masih minim komputer dan akses internet. Ketiga, kurikulum siswa sudah padat, penambahan mata pelajaran baru berpotensi membuat beban belajar semakin berat.
Deep Learning dan Masa Depan Pendidikan
Penerapan deep learning dalam pendidikan sebenarnya sangat menjanjikan. Model ini memungkinkan pembelajaran yang lebih personal, adaptif, bahkan mampu melakukan asesmen otomatis. Namun, penerapan deep learning memerlukan big data, regulasi etis, dan infrastruktur canggih—sesuatu yang belum sepenuhnya merata di sekolah Indonesia.
Kritik dan Analisis
Jika tidak dilakukan dengan strategi tepat, penambahan coding dan AI bisa menjadi sekadar gimmick kebijakan. Sekolah-sekolah di perkotaan mungkin siap, tetapi sekolah di pelosok bisa semakin tertinggal. Padahal, guru tetap menjadi kunci utama. Tanpa program peningkatan kapasitas guru secara masif, kebijakan secanggih apapun sulit berjalan.