BOGOR — Akses vital warga di wilayah barat Kabupaten Bogor kembali terganggu. Jalan Raya Cikampak–Bojong Rangkas di Desa Bojong Rangkas, Kecamatan Ciampea, kini dalam kondisi kritis setelah longsor yang tak kunjung dituntaskan membuat badan jalan menyempit drastis.
Saat ini, lebar jalan tersisa hanya sekitar dua meter dan praktis hanya bisa dilintasi sepeda motor. Kendaraan roda empat terpaksa memutar melalui jalur alternatif di perumahan dan jalan desa yang sempit, menambah waktu tempuh serta biaya transportasi warga.
Kerusakan jalan ini bukan persoalan baru. Longsor pertama terjadi sekitar tiga tahun lalu, namun penanganannya dinilai setengah hati. Pembangunan turap sempat dilakukan, tetapi tidak diselesaikan secara menyeluruh.
Dari total kebutuhan anggaran sekitar Rp3 miliar, pekerjaan hanya terealisasi Rp1,7 miliar akibat kebijakan efisiensi. Dampaknya, struktur penahan tanah tidak optimal dan longsor susulan pada November 2025 kembali memperparah kondisi jalan.
Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Muhammad Hasani, mengingatkan bahwa kondisi jalan masih sangat rawan dan tidak layak dilintasi kendaraan roda empat.
“Potensi longsor masih tinggi. Jangan dipaksakan, ini berbahaya bagi keselamatan pengguna jalan,” tegasnya, Selasa (14/4/2026).
Dampak kerusakan ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Aktivis Bogor Barat, Furkon, menilai lambatnya penanganan sejak awal menjadi penyebab utama kondisi semakin parah.
“Kerusakan kecil dibiarkan, akhirnya jadi longsor besar. Sekarang masyarakat yang harus menanggung dampaknya,” ujarnya.
Tak hanya mengganggu mobilitas warga, kerusakan jalan juga berdampak pada distribusi logistik, termasuk pasokan bahan bakar ke SPBU dan SPBG di wilayah sekitar. Selain itu, akses menuju fasilitas kesehatan menjadi lebih sulit, terutama dalam kondisi darurat.