Oleh: Susanto/Redaksi Media Online beritasatoe.com
Di tengah perubahan lanskap pendidikan yang semakin kompleks, peran guru sesungguhnya tidak pernah menjadi lebih ringan. Mereka tidak hanya dituntut untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan nilai, dan membimbing generasi muda agar mampu menghadapi kehidupan dengan utuh.
Namun dalam praktiknya, muncul gejala yang patut dicermati bersama: peran guru sebagai pendidik perlahan mengalami penyempitan makna.
Hari ini, tidak sedikit guru yang merasa lebih aman ketika membatasi diri pada fungsi mengajar semata, menyampaikan materi, menyelesaikan kurikulum, dan memenuhi tuntutan administratif. Sementara ruang untuk mendidik, yang seringkali membutuhkan ketegasan dan kedekatan emosional, justru menjadi area yang sensitif dan rawan disalahpahami.
Fenomena ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan, termasuk meningkatnya sensitivitas terhadap berbagai bentuk perlakuan di lingkungan sekolah.
Antara Ketegasan dan Kekerasan: Ruang yang Kian Samar
Dalam konteks pendidikan, ketegasan sejatinya merupakan bagian integral dari proses pembentukan karakter. Disiplin, tanggung jawab, dan etika tidak terbentuk hanya melalui pendekatan persuasif, tetapi juga melalui batasan yang jelas.
Namun, dalam realitas hari ini, batas antara ketegasan dan kekerasan seringkali menjadi kabur. Tindakan yang dimaksudkan sebagai upaya pembinaan dapat dengan cepat dipersepsikan sebagai pelanggaran, terutama ketika dilihat dari sudut pandang yang berbeda antara guru dan orang tua.