BANDUNG – Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung terus melakukan transformasi dalam pengelolaan arsip dan perpustakaan. Tidak lagi sekadar menjadi tempat penyimpanan dokumen dan koleksi buku, kini perpustakaan diarahkan menjadi ruang publik yang hidup, interaktif, serta mampu mendorong tumbuhnya literasi, kreativitas, dan inovasi masyarakat.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari, mengatakan paradigma lama mengenai arsip dan perpustakaan perlu diubah agar lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Menurutnya, arsip tidak cukup hanya ditelusuri dan disimpan, tetapi harus dipublikasikan sehingga dapat memberikan nilai edukasi dan menjadi sumber pengetahuan bagi masyarakat luas.

“Selama ini arsip ditelusuri lalu disimpan. Sekarang setelah ditelusuri, hasilnya harus diekspos kepada masyarakat agar semakin banyak masyarakat yang memahami sejarah dan memiliki literasi yang lebih baik,” ujar Kenny di Bandung, Rabu (24/6/2026).

Ia menjelaskan, transformasi yang dilakukan Disarpus juga menyasar fungsi perpustakaan yang kini tidak lagi identik dengan suasana sunyi dan pasif. Perpustakaan justru didorong menjadi ruang publik yang aktif, terbuka, dan menjadi wadah bertemunya berbagai gagasan serta inovasi dari masyarakat.

“Paradigma perpustakaan kita ubah. Perpustakaan bukan lagi tempat yang sepi, melainkan ruang yang ramai dengan ide, kreativitas, diskusi, dan berbagai inovasi,” katanya.

Kenny menilai keberhasilan program literasi dan pelestarian sejarah tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Karena itu, peran media massa dan insan pers menjadi sangat penting dalam menyebarluaskan informasi serta mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya arsip dan sejarah daerah.

Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam membantu mengampanyekan berbagai program kearsipan, literasi, dan pelestarian sejarah Kota Bandung kepada masyarakat secara lebih luas.

Selain itu, Disarpus Kota Bandung juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat untuk berkontribusi dalam pelestarian sejarah kota. Warga yang memiliki arsip, artefak, foto lama, maupun cerita sejarah tentang Bandung didorong untuk berbagi informasi agar dapat didokumentasikan dan menjadi bagian dari khazanah sejarah kota.

“Siapa pun yang memiliki arsip, artefak, ataupun cerita mengenai Kota Bandung dapat ikut berpartisipasi untuk memperkaya dokumentasi sejarah yang kita miliki bersama,” tuturnya.