Oleh: Johan Sopaheluwakan, S.Pd., C.EJ., C.BJ.

Jakarta Barat, (TB) - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura (SGD) yang mencapai rekor terlemah sepanjang sejarah pada 25 September 2025, menyentuh level Rp13.002/SGD, adalah sebuah alarm yang patut dicermati. Depresiasi lebih dari 10% sejak awal tahun 2025 menunjukkan adanya tekanan signifikan yang tidak bisa diabaikan, terutama mengingat SGD dikenal sebagai mata uang safe haven yang stabil didukung oleh stabilitas politik dan cadangan devisa yang kuat. 

Fenomena ini bukan hanya sekadar pergerakan angka di pasar keuangan, melainkan cerminan kompleksitas interaksi antara dinamika ekonomi domestik, politik nasional, dan gejolak global.
 
Analisis Ekonomi dan Politik yang saling terkait bahwa secara ekonomi, melemahnya rupiah terhadap SGD bisa diinterpretasikan dari beberapa sudut pandang. 

Pertama, perbedaan suku bunga riil antara Indonesia dan Singapura mungkin tidak cukup menarik bagi investor untuk menahan aset dalam rupiah, mendorong mereka beralih ke aset yang lebih aman dan memberikan imbal hasil yang kompetitif seperti SGD. 

Kedua, neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia bisa jadi mengalami tekanan, misalnya akibat penurunan harga komoditas ekspor atau peningkatan impor, yang mengurangi pasokan dolar di pasar domestik. 

Ketiga, sentimen investor global yang cenderung mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi global atau potensi resesi di negara-negara maju, akan memperkuat mata uang seperti SGD dan menekan mata uang negara berkembang.
 
Dari sisi politik, baik nasional maupun global, dampaknya sangat terasa. Di tingkat global, ketegangan geopolitik yang memanas di berbagai belahan dunia, perang dagang, atau perubahan kebijakan moneter bank sentral utama (misalnya Federal Reserve AS) dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Investor cenderung menarik dananya dari aset berisiko tinggi dan memarkirkannya di aset yang lebih aman, termasuk SGD. Sementara itu, di tingkat nasional, stabilitas politik dan kepastian hukum menjadi fondasi penting bagi kepercayaan investor. Isu-isu politik domestik, meskipun tidak secara langsung disebutkan dalam data, dapat memengaruhi persepsi risiko dan prospek investasi di Indonesia, yang pada gilirannya memengaruhi aliran modal dan nilai tukar rupiah.
 
Kiat Pemerintah: Respons Proaktif dan Terukur
 
Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah-langkah proaktif dan terukur untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
 
1. Kebijakan Moneter yang Konsisten: Bank Indonesia harus terus menjaga stabilitas harga dan nilai tukar melalui intervensi pasar yang tepat sasaran dan penyesuaian suku bunga acuan jika diperlukan, untuk menjaga daya tarik investasi aset rupiah.

2. Peningkatan Cadangan Devisa: Memperkuat cadangan devisa adalah benteng pertahanan utama. Ini bisa dilakukan melalui peningkatan ekspor, menarik investasi asing langsung (FDI) yang berkualitas, dan mengelola utang luar negeri secara hati-hati.

3. Reformasi Struktural: Percepatan reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing ekonomi, kemudahan berusaha, dan produktivitas akan menarik investasi jangka panjang, yang pada akhirnya memperkuat fundamental ekonomi dan rupiah.

4. Komunikasi Kebijakan yang Jelas: Transparansi dan komunikasi yang efektif mengenai arah kebijakan ekonomi dan langkah-langkah yang diambil pemerintah dapat membangun kepercayaan pasar dan meredam spekulasi.