Oleh: Susanto (Redaktur Media Online Tugasbangsa.com)

TUGASBANGSA.COM - Setiap tahun, tanggal 25 November selalu membawa kita pada satu renungan penting: adakah yang dapat kita sebut sebagai kemajuan pendidikan tanpa kehadiran guru yang berdaya? Hari Guru Nasional (HGN) pada 2025 ini kembali dirayakan dengan gegap gempita, namun juga penuh tanda tanya besar. Apakah penghormatan kepada guru hanya berhenti pada upacara dan ucapan selamat? Ataukah peringatan ini benar-benar menjadi momentum perubahan bagi wajah pendidikan kita?

Hari ini, dari ruang redaksi Beritasatoe.com ingin menegaskan bahwa peringatan Hari Guru Nasional bukanlah seremoni tahunan. Ini adalah refleksi tentang masa depan bangsa, karena kualitas guru adalah fondasi kualitas generasi.

Guru Masih Menjadi Penopang Sistem yang Tidak Sepenuhnya Berdiri untuk Mereka

Fakta di lapangan berbicara lebih jujur daripada naskah pidato.
Masih ada ratusan ribu guru honorer yang mengabdikan diri dengan penghasilan yang tidak layak. Mereka mengisi kekosongan tenaga pendidik yang tak mampu dipenuhi negara, namun keberadaan mereka kerap dianggap sekadar “pelengkap”.

Sementara itu, guru-guru di sekolah swasta yang sebagian besar justru menjadi benteng pendidikan masyarakat kecil berjuang dengan kondisi yang tidak jauh berbeda. Banyak dari mereka menerima gaji yang bahkan tidak menembus UMK, bukan karena sekolah tidak mau, tetapi karena sistem pendanaan pendidikan negeri–swasta memang tidak pernah setara sejak awal.

Negara memanggil mereka “pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi terlalu sering melupakan bahwa pahlawan pun tetap manusia yang butuh kepastian hidup.

Guru Butuh Kesempatan, Bukan Sekadar Penghargaan

Selama satu dekade terakhir, perubahan kurikulum, transformasi digital, dan berbagai program pelatihan telah gencar dilakukan. Namun, pertanyaan mendasarnya selalu sama: apakah semua perubahan itu lahir dari kebutuhan guru atau hanya mengikuti arah kebijakan yang berubah setiap periode pemerintah?