PESAWARAN, (TB) - ZGelombang protes atas dugaan penyimpangan bantuan alat pertanian dan pupuk subsidi yang melibatkan Ketua Gapoktan Mekar Jaya, Iskandar, di Desa Cipadang, Pesawaran, kian membesar. Mantan Kepala Desa Cipadang, Sunarmin, turut buka suara, mengungkap kejanggalan hilangnya bantuan alat pertanian, Kamis (9/10/2025). Saya ingat betul, dulu bantuan itu nyata, bukan sekadar cerita.

Sunarmin dengan tegas membenarkan bahwa selama masa jabatannya, kelompok tani di Desa Cipadang menerima berbagai bantuan alat pertanian dari pemerintah. Bantuan itu seharusnya menjadi berkah bagi para petani, tapi kini malah menjadi duri dalam daging.

"Saya tahu dulu ada traktor, bahkan saya pernah berfoto di atasnya. Selain itu juga ada bajak dan mesin penyedot air (alkon). Tapi untuk jumlah pastinya saya tidak tahu," kata Sunarmin kepada awak media ini.

Pengakuan serupa datang dari anggota Gapoktan Mekar Jaya yang memilih anonim. Ia menuturkan bahwa kelompoknya memiliki beberapa alat bantuan, namun keberadaannya kini misterius.

"Kami dulu punya satu unit traktor, tiga bajak, satu rotari, dan satu alkon penyedot air. Tapi sekarang semuanya hilang entah di mana, tidak jelas," Ucapnya.

Tak hanya itu, sumber tersebut juga menyoroti dugaan penyimpangan dalam pendistribusian pupuk subsidi sejak 2023. Ironisnya, seluruh warga Desa Cipadang, tanpa terkecuali, diminta mengumpulkan data untuk penerimaan pupuk subsidi.

"Kami semua diminta data untuk penerima pupuk, walau ada yang tidak punya lahan. Harusnya dapat tujuh kwintal (700 kg), tapi kenyataannya kami hanya menerima dua kwintal (200 kg)," Bebernya.

Sumber itu menambahkan, pengambilan pupuk dilakukan di sebuah toko milik seseorang bernama Gono. Nama Gono juga disebut-sebut sebagai tempat pengambilan pupuk bagi Kepala Desa Padang Ratu.

Kasus ini memicu desakan warga agar pihak berwenang segera melakukan audit dan penelusuran terhadap aset serta bantuan pertanian yang diberikan kepada Gapoktan Mekar Jaya Desa Cipadang. Jika dibiarkan, bantuan yang seharusnya menyejahterakan petani, justru menjadi lahan korupsi.