Oleh: Dr. Andi Rahmat, M.Ed
Akademisi dan Pemerhati Pendidikan
Ada sesuatu yang berubah di ruang-ruang kelas kita. Tak lagi kaku, tak lagi sepenuhnya bergantung pada buku pegangan tebal dan papan tulis hitam putih. Ada anak-anak yang kini tertawa sambil merancang proyek kecil tentang lingkungan sekolah. Ada guru-guru yang berdiskusi, bukan hanya menyampaikan.
Ini bukan mimpi. Ini nyata. Ini adalah wajah baru dari apa yang kita sebut sebagai Kurikulum Merdeka.
Sebagai seorang yang sudah lama mengamati kebijakan pendidikan dari berbagai sisi, saya melihat bahwa inilah salah satu langkah paling progresif yang pernah diambil negara ini, yakni membebaskan guru dan siswa dari belenggu metode lama yang kering dan seragam. Kita sudah terlalu lama mengukur keberhasilan pendidikan hanya dari angka-angka ujian dan akreditasi.
Kini, guru diberi ruang untuk berkreasi. Siswa diberi hak untuk memilih dan mengekspresikan. Kita mulai kembali pada hakikat pendidikan: membentuk manusia, bukan sekadar mencetak nilai.
Saya membaca laporan dari sebuah sekolah negeri di Bogor. Seorang guru bercerita betapa senangnya ia dapat menyusun pembelajaran yang sesuai dengan realitas sekitar muridnya. Seorang siswa berkata bahwa kini ia merasa sekolah seperti tempat yang mengerti dirinya, bukan sekadar tempat menghafal.
Itulah makna kemerdekaan. Bukan hanya bebas dari, tapi bebas untuk. Bebas untuk berpikir. Bebas untuk bertanya. Bebas untuk gagal dan belajar dari kegagalan itu.
Namun tentu saja, perubahan sebesar ini tidak berjalan mulus. Masih banyak sekolah yang kesulitan memahami filosofi di balik Kurikulum Merdeka. Masih ada guru yang terbebani karena kurangnya pelatihan. Masih ada daerah-daerah yang belum tersentuh akses digital, sementara platform pendukung kurikulum ini berbasis teknologi.
Berita Populer
Daerah
Install App
Tugasbangsa.com
Untuk pengalaman membaca berita yang lebih cepat dan nyaman, Install Aplikasi kami di Android Anda