BOGOR – Program penghijauan yang digagas Forum Kampung Ramah Lingkungan (FKRL) Kabupaten Bogor di kawasan Jalan Bomang, Kabupaten Bogor, tengah menjadi sorotan. Sekitar 500 pohon yang baru ditanam dalam program hutan kota dilaporkan mengalami kerusakan dan diduga terdampak aktivitas alat berat dalam beberapa hari terakhir.
Informasi tersebut disampaikan langsung Ketua FKRL Kabupaten Bogor, Edi Sumadi, usai melakukan peninjauan lapangan pada Rabu (10/6/2026). Menurutnya, kondisi tersebut cukup mengejutkan mengingat penanaman pohon baru saja dilaksanakan pada 29 Mei 2026 sebagai bagian dari program penghijauan yang mendapat dukungan berbagai pihak.
"Kami melihat langsung di lapangan dan memang terdapat ratusan pohon yang sudah terdampak. Jenisnya beragam, mulai dari mahoni, mangga, ketapang, ketapang laut, jambu hingga pohon jingjing," ujar Edi Sumadi.
Program penghijauan tersebut merupakan tindak lanjut dari audiensi FKRL dengan Pemerintah Kabupaten Bogor pada pertengahan Mei 2026. Saat itu, kawasan sepanjang sekitar 8,5 kilometer di Jalan Bomang direncanakan menjadi bagian dari program hutan kota untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperluas ruang terbuka hijau.
Penanaman perdana yang dilaksanakan pada 29 Mei lalu turut dihadiri sejumlah unsur pemerintah daerah, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pihak kecamatan, hingga pemerintah desa setempat.
Edi mengaku menyayangkan adanya aktivitas yang menyebabkan kerusakan tanaman tersebut. Menurutnya, hingga saat ini FKRL tidak menerima pemberitahuan maupun koordinasi resmi terkait adanya pekerjaan di lokasi penghijauan tersebut.
Mengaku Anggota TNI Saat Dikonfirmasi, Pria di Lokasi Proyek Irigasi Pakansari Tuai Tanda Tanya
"Kami belum menerima surat ataupun pemberitahuan resmi terkait aktivitas yang dilakukan di lokasi. Karena itu kami berharap ada penjelasan yang jelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat," katanya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh FKRL, lahan tersebut disebut-sebut akan dimanfaatkan untuk program pertanian atau ketahanan pangan. Namun demikian, Edi menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak program tersebut selama tetap memperhatikan aspek lingkungan dan keberlangsungan program penghijauan yang telah berjalan.
Menurutnya, solusi terbaik adalah mengintegrasikan kedua kepentingan tersebut sehingga program ketahanan pangan dan hutan kota dapat berjalan berdampingan.