BOGOR – Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang digagas pemerintah pusat mulai berjalan di tingkat desa. Namun, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam hal permodalan dan partisipasi masyarakat.
Salah satunya terlihat di Desa Banjarwaru, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor. Koperasi yang telah terbentuk sejak Mei 2025 ini baru mampu menghimpun modal sekitar Rp6 juta dari 110 anggota.
Ketua KDMP Banjarwaru, Yauri Muhammad Kholis, mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu sekitar delapan bulan, koperasi masih dalam tahap awal penguatan modal dan pengembangan usaha.
“Dari 110 anggota, kami baru mengumpulkan modal sekitar Rp6 juta. Dari perputaran usaha, keuntungan hingga Desember 2025 baru sekitar Rp1,02 juta dan masih kami akumulasi untuk penambahan modal,” ujarnya usai Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2025, Selasa (31/3/2026).
Menurut Yauri, dana yang terkumpul sebagian besar telah digulirkan kembali untuk kegiatan usaha koperasi. Sementara untuk kebutuhan operasional, pihaknya masih mengandalkan iuran anggota.
“Kami tidak menggunakan keuntungan untuk operasional. Biaya operasional murni dari iuran anggota,” jelasnya.
Meski masih terbatas, KDMP Banjarwaru mulai menyusun rencana ekspansi usaha. Salah satunya dengan membuka gerai serta menjajaki peluang suplai kebutuhan untuk program makan bergizi gratis (MBG) melalui SPPG.
“Kami akan mencoba memperluas jaringan usaha, termasuk membuka gerai dan masuk ke rantai pasok kebutuhan program pemerintah,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Banjarwaru, Abdurahman, menyambut baik keberadaan KDMP sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi desa. Ia berharap koperasi ini dapat berkembang dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.