JAKARTA, (TB) – Malam yang biasanya lengang mendadak berubah menjadi lautan jaket hijau. Sekitar pukul 22.00 WIB, ribuan pengemudi ojek online (ojol) mengepung Markas Korps Brimob Polri. Mereka datang dengan satu tuntutan: keadilan bagi Affan Kurniawan, driver ojol yang tewas setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob, serta Moh. Umar Amirudin yang kini kritis di rumah sakit akibat insiden yang sama.

Aksi solidaritas ini menjelma menjadi gelombang massa yang memenuhi jalanan menuju markas Brimob. Suara klakson, deru knalpot, dan sorak-seruan massa menggema di udara malam. Dengan wajah muram dan amarah yang menyala, ribuan ojol menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar protes, melainkan penuntutan atas nyawa dan harga diri.

Tragedi bermula saat demonstrasi berujung maut. Affan Kurniawan tewas setelah tubuhnya dilindas rantis Brimob, sementara rekannya, Moh. Umar Amirudin, masih terbaring antara hidup dan mati di ruang ICU. Insiden ini memicu gelombang duka dan kemarahan yang meluas di kalangan komunitas ojol.

“Inikah wujud perlindungan negara kepada rakyatnya? Kami bukan musuh negara. Tapi kenapa harus ada yang mati demi bersuara?” ujar salah satu pengemudi dengan suara bergetar.

Pemerintah dan Polri sudah menyampaikan permintaan maaf. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan penyesalan mendalam atas tragedi tersebut.

“Saya menyesali peristiwa yang terjadi dan mohon maaf sedalam-dalamnya. Sekali lagi, kami mohon maaf untuk korban, keluarga, dan komunitas ojol,” kata Kapolri dalam pernyataan terbuka.

Namun, bagi massa yang berkumpul, kata “maaf” dianggap tak cukup. “Maaf tak bisa membeli susu anak Affan. Maaf tak bisa menggantikan tulang punggung keluarga kami. Maaf tak bisa menghentikan mesin ventilator yang menjaga Umar tetap hidup,” ujar seorang driver ojol asal Tangerang.

Dengan formasi padat, para ojol bergantian meneriakkan nama Affan dan Umar, memastikan keduanya tak akan dilupakan. Di hadapan benteng kokoh Markas Brimob, suara rakyat kecil menggema—bukan sekadar permintaan, melainkan tuntutan atas keadilan yang tertunda.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa kesabaran rakyat memiliki batas. Ketika batas itu terlampaui, mereka tidak lagi sekadar mengantar penumpang atau makanan. Mereka membawa suara rakyat dan suara itu tak bisa dibungkam. (Red)

A
Penulis: AdminTb