DEPOK - Gaung pelaksanaan Lebaran Depok 2026 mulai terasa. Tahun ini, perhelatan budaya tahunan kebanggaan warga Depok dipastikan hadir dengan semangat yang lebih kuat, lebih meriah, dan lebih sarat makna dalam mengangkat identitas lokal di tengah perkembangan zaman.
Kepercayaan besar diberikan kepada Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, H. Hamzah, yang ditunjuk sebagai ketua panitia setelah melalui musyawarah bersama berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, DPRD, komunitas KOOD (Kumpulan Orang-Orang Depok), hingga unsur TNI dan Polri.
Di bawah komando Hamzah, Lebaran Depok 2026 tidak hanya akan tampil sebagai pesta rakyat semata, tetapi juga diarahkan menjadi panggung besar pelestarian budaya dan ruang pembelajaran bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Hamzah menegaskan, semangat utama dari kegiatan ini tetap berpijak pada upaya menjaga dan menghidupkan kembali budaya Betawi Depok sebagai bagian penting dari akar sejarah dan identitas Kota Depok. Namun di saat yang sama, acara ini juga akan membuka ruang bagi kekayaan budaya Nusantara untuk hadir dan berbaur secara harmonis.
“Fokus utama kita tetap pada pelestarian budaya, khususnya budaya Betawi dan budaya Nusantara. Tahun ini kita ingin menghadirkan rangkaian kegiatan yang lebih beragam, lebih intens, dan lebih terasa nilai edukasinya,” ujar Hamzah saat ditemui di Balai Kota Depok, Kamis (2/4/2026).
Rangkaian Lebaran Depok 2026 akan digelar selama lima hari, mulai 5 hingga 9 April 2026. Selama pelaksanaan, masyarakat akan disuguhkan berbagai pertunjukan seni dan tradisi, seperti lenong, tarian daerah, hiburan rakyat, hingga penampilan budaya khas yang sarat nilai sejarah.
Tak sekadar menyajikan tontonan, seluruh agenda yang disusun juga diarahkan menjadi tuntunan budaya agar generasi muda tidak tercerabut dari akar tradisinya sendiri.
Yang menarik, tahun ini panitia juga menyiapkan konsep yang lebih membumi dengan menghadirkan simulasi kehidupan masyarakat Depok tempo dulu. Pengunjung nantinya dapat melihat dan mengenal lebih dekat berbagai tradisi lama yang dahulu menjadi bagian dari keseharian warga.
Mulai dari tradisi rantangan atau kebiasaan berbagi makanan antarwarga, proses pembuatan dodol, hingga aktivitas membersihkan perabot rumah tangga menjelang hari besar, semuanya akan ditampilkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kembali nilai-nilai luhur masyarakat Depok masa lalu.