JAKARTA, (TB) – Pelayanan air bersih dari PAM Jaya yang bekerja sama dengan PT Moya Indonesia menuai keluhan dari warga. Alih-alih mendapatkan air bersih sebagaimana dijanjikan, warga justru menerima air berwarna keruh, berbau busuk, dan tak layak pakai.
Istilah "air berbau Moya" bahkan kini ramai digunakan masyarakat sebagai bentuk sindiran atas kondisi buruk air yang mereka terima.
Keluhan ini disampaikan ratusan warga di tiga RW wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Sudah tiga hingga lima bulan terakhir, mereka harus menghadapi suplai air yang tidak layak dan terkadang tidak mengalir sama sekali.
“Airnya bau, warnanya keruh, tidak layak dipakai. Apalagi untuk minum atau masak,” keluh Haji Zaelani, tokoh masyarakat setempat.
Tak hanya warga, kritik juga datang dari Direktur Eksekutif Center For Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, yang menyebut bahwa persoalan ini merupakan buah dari penunjukan langsung PT Moya Indonesia tanpa proses transparan.
“Ini hasil dari proses penunjukan langsung yang tidak terbuka. PAM Jaya pendapatannya besar, tapi pelayanannya buruk. Air yang keluar malah seperti comberan,” tegas Uchok.
Berdasarkan data yang ia ungkap, pendapatan PAM Jaya dari 2019–2024 konsisten di atas Rp2 triliun, dengan laba bersih tahun 2023 sebesar Rp1,2 triliun. Namun angka fantastis itu tidak berbanding lurus dengan kualitas layanan publik.
“Jangan sampai PAM Jaya bernasib seperti Perumda Pasar Jaya yang diduga menyimpan skandal bansos Rp2,85 triliun. Ini peringatan keras!” tambahnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, belum memberikan tanggapan resmi. Sementara itu, warga berharap Pemprov DKI Jakarta dan instansi terkait segera turun tangan agar suplai air bersih kembali layak dikonsumsi. (Red)