JAKARTA, (TB) – Koalisi Mahasiswa dan Pemuda Peduli USU (KAMPPUS) kembali menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Senin (17/11/25). Aksi ini merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap proses Pemilihan Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) periode 2026–2031 yang dinilai penuh kejanggalan dan sarat kepentingan.

Dalam orasinya, massa menuding Majelis Wali Amanat (MWA) USU telah melakukan manipulasi mekanisme pemilihan dengan memindahkan rapat pleno ke luar kampus yang dianggap tidak lazim, sehingga membuka peluang praktik penyimpangan.

Aksi ini merupakan lanjutan dari rangkaian protes yang sebelumnya dilakukan KAMPPUS di Medan. Mereka menuntut keterbukaan, akuntabilitas, serta mendesak KPK turun tangan mengusut dugaan praktik korupsi dalam proses pemilihan rektor.

Koordinator aksi menegaskan bahwa pihaknya telah mengantongi bukti awal terkait dugaan kecurangan. “Kami memiliki data yang cukup kuat dan akan menyerahkannya kepada KPK. Kami tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan. KPK harus turun tangan dan mengusut tuntas proses pemilihan rektor USU,” ujarnya lantang.

Dalam aksi tersebut, demonstran membawa berbagai poster tuntutan seperti: “MWA USU Sarang Korupsi,” “Usut Tuntas Pemilihan Rektor USU,” dan “Keadilan untuk USU.” Aksi berlangsung tertib dengan pengamanan dari aparat kepolisian.

Beberapa perwakilan KAMPPUS kemudian diterima pihak KPK untuk menyampaikan laporan dan menyerahkan bukti-bukti pendukung. Pihak KPK menyatakan akan menindaklanjuti laporan tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Proses Pemilihan Rektor USU 2026–2031 memang menjadi sorotan publik lantaran dinilai tidak transparan. Berbagai kalangan menilai dugaan manipulasi dapat berdampak serius terhadap tata kelola kampus serta merusak kepercayaan masyarakat.

KAMPPUS berharap KPK dapat bekerja cepat dan tegas agar USU dapat dipimpin figur berintegritas yang mampu memajukan pendidikan di Sumatera Utara. Mereka menegaskan akan terus mengawal kasus ini melalui aksi lanjutan dan advokasi publik.

Dampak dugaan manipulasi ini diyakini tidak hanya dirasakan civitas akademika USU, tetapi juga masyarakat Sumatera Utara secara luas. Sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Sumatera, USU memegang peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia unggul.