BOGOR, (TB)– Mimpi warga Desa Nanggung dan Curugbitung untuk memiliki jalan yang layak tampaknya masih jauh dari kenyataan. Ruas Jalan Nanggung-Rancabakti, urat nadi yang menghubungkan kedua desa ini, kini bagaikan kubangan lumpur sepanjang 4 kilometer. Kerusakan parah ini mengancam aktivitas sehari-hari, dari anak sekolah hingga petani yang mengangkut hasil bumi.

Kepala UPT Jalan dan Jembatan Kelas A wilayah Cigudeg, Bobby Wahyudi, membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut. Dari total panjang 5,6 kilometer, hampir 4 kilometer mengalami kerusakan yang sangat berat.

"Kalau panjang kerusakan itu dari panjang 5640 meter hampir di 4000 meter kerusakan parah," kata Bobby kepada beritasatoe.com dikonfirmasi melalui pesan singkat via WhatsApp pribadinya, Selasa (14/10/2025).

Ironisnya, perbaikan yang dijanjikan pemerintah daerah terkesan lambat. Tahun ini, hanya 220 meter jalan yang akan diperbaiki. Sementara itu, usulan rekonstruksi sepanjang 2 kilometer baru akan diajukan untuk tahun 2026.

"Yang ditangani tahun 2025 baru 220 meter sedangkan rencana usulan rekontruksi tahun 2026 itu sepanjang 2000 meter," tambahnya.

Sekretaris Desa Curugbitung, Yustiawan, mengungkapkan kekecewaannya. Ia telah berupaya mengusulkan perbaikan jalan ini dalam berbagai forum, termasuk Musrenbang.

Menurutnya, jalan ini sangat vital bagi masyarakat. Akses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian sangat bergantung pada kondisi jalan yang memadai.

"Dari Musrenbang kita sudah mendorong bahkan terakhir kemarin masuk skala prioritas 2026 mudah-mudahan juga terealisasi," kata Yustiawan.

Warga berharap, pemerintah daerah segera bertindak nyata. Janji perbaikan jangan hanya menjadi angin surga. Aksesibilitas yang baik adalah hak dasar setiap warga negara. Sampai kapan warga Nanggung dan Curugbitung harus bergelut dengan jalan rusak ini? (Dery).