JAKARTA, (TB) – Pemanfaatan artificial intelligence (AI) dinilai menjadi kunci bagi Indonesia untuk melompat lebih jauh dalam bidang ekonomi, pendidikan, maupun kebudayaan. AI disebut sebagai game changer yang mampu membawa Indonesia dari posisi negara ke-16 terbesar di G20 menuju empat besar dunia pada tahun 2045.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam forum yang digelar di Auditorium Abdurrahman Saleh, RRI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).

Sejak pagi, ratusan peserta memenuhi ruang auditorium. Suasana cair terasa ketika alumni perguruan tinggi saling bertukar pikiran mengenai peran generasi baru menghadapi era digital. Tepuk tangan meriah kerap terdengar saat Airlangga menyinggung peluang Indonesia bersaing dengan Jepang, Korea, dan Tiongkok.

Airlangga menuturkan, Indonesia memiliki rekam jejak panjang sebagai negara dengan basis ekonomi komoditas. Pada abad ke-16 hingga masa kolonial Belanda, rempah-rempah menjadi komoditas unggulan. Pada 1970-an, Indonesia menikmati oil boom. Memasuki awal 2000-an, sawit dan hilirisasi menjadi penggerak utama. Namun, ke depan, menurutnya, mesin penggerak baru harus berbasis sumber daya manusia unggul dan digitalisasi.

“AI adalah keniscayaan. Kalau kita ingin menyusul Jepang, Korea, dan Tiongkok, maka kuncinya ada pada SDM yang berkualitas serta transformasi digital,” ujarnya.

Airlangga juga menyoroti peluang pemanfaatan AI melalui Tab X Program yang telah ditandatangani Indonesia dengan Singapura. Program ini memungkinkan tenaga kerja digital, lulusan perguruan tinggi, maupun profesional Indonesia untuk bekerja lintas negara.

“Kesempatan ini tidak hanya untuk alumni UGM, tetapi juga terbuka bagi alumni UI, ITB, dan universitas lainnya,” tambahnya, disambut tepuk tangan peserta.

Forum yang turut dihadiri para guru besar, akademisi, dan pemangku kepentingan lintas sektor itu menegaskan pentingnya sinergi dalam memanfaatkan teknologi digital. AI diharapkan menjadi instrumen memperkuat daya saing bangsa, tidak hanya di bidang ekonomi, tetapi juga pendidikan dan kebudayaan.

Sebagai penutup, Airlangga membacakan pantun yang mengundang senyum hadirin. Momen ringan itu menegaskan bahwa optimisme menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya dibangun dengan strategi besar, tetapi juga dengan semangat kebersamaan. (Johan)