BOGOR – Di tepi ruas Jalan Jasinga–Tenjo, tepatnya di Asapati, Desa Pamagersari, sebuah pangkas rambut sederhana tetap bertahan di tengah gempuran tren barbershop modern. Tempat itu dikenal warga sebagai Pangkas Rambut Mang Belong.
Di balik kursi potong dan cermin sederhana, Andi—yang akrab disapa Mang Belong—menjalani profesi yang telah ia tekuni lebih dari dua dekade. Sejak 2002, ia sudah akrab dengan gunting, sisir, dan mesin cukur.
“Awalnya saya kerja sebagai karyawan di pangkas rambut di Cimone,” ujar Belong saat ditemui, Kamis (26/3/2026).
Pengalaman bertahun-tahun sebagai karyawan menjadi bekal penting. Setelah hampir satu dekade belajar dan mengasah keterampilan, ia memutuskan pulang ke kampung halaman dan membuka usaha sendiri pada 2011.
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Selain ingin mandiri, Belong juga melihat kebutuhan masyarakat akan jasa pangkas rambut yang terjangkau dan mudah diakses.
Sejak saat itu, usahanya perlahan tumbuh dan menjadi bagian dari keseharian warga sekitar. Pelanggannya pun beragam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa yang datang untuk sekadar merapikan rambut.
Di tengah maraknya barbershop modern dengan konsep kekinian, Mang Belong tetap bertahan dengan gaya sederhana. Salah satu kunci utamanya adalah harga yang ramah di kantong.
Untuk potong rambut dewasa, ia mematok tarif Rp15 ribu, anak-anak Rp13 ribu, cukur kumis atau jenggot Rp5 ribu, serta paket potong rambut dan semir Rp50 ribu.
Bagi sebagian warga, harga tersebut menjadi alasan utama untuk tetap setia. Namun, bukan hanya soal tarif, kedekatan dan kepercayaan juga menjadi nilai lebih yang sulit tergantikan.