Ia mengatakan bahwa saat ini masyarakat Indonesia sudah mulai memahami urgensinya moderasi beragama bagi kestabilan kehidupan sehari-hari. “Maka dari itu, saat ini bukan lagi memberikan pemahaman kepada masyarakat tetapi menguatkan wawasan mereka mengenai moderasi beragama dalam menghadapi keanekaragaman yang ada,” ungkap Kang Ace biasa disapa.
Namun demikian, kembali Ia mengungkapkan bahwa permasalahan moderasi beragama masih saja ditemui di tengah-tengah masyarakat. “Gerak cepat pemerintah bersama tokoh agama dan pihak keamanan dapat mengurangi dampak dari permasalahan kerukunan umat beragama yang ada karena ini adalah hal yang sensitif di tengah masyarakat,” jelasnya.
Kang Ace juga menyampaikan 4 poin yang menjadi masalah kerukunan umat beragama saat ini yaitu masih adanya masyarakat yang memiliki pandangan fanatisme atau radikalisme terhadap agama dan keyakinan yang dianut.
“Fanatisme agama untuk diri sendiri sangat diperlukan sebagai hubungan kita kepada Sang Pencipta, tetapi akan menjadi salah apabila agama atau keyakinan tersebut kita paksakan terhadap orang lain,” jelasnya.
Maka dari itu, Ace Hasan, menilai bahwa untuk menyikapi perbedaan dan keanekaragaman yang ada di tengah-tengah masyarakat dibutuhkan pemikiran yang moderat dan bijaksana.
Kemudian poin kedua yang menjadi permasalahan kerukunan umat beragama saat ini adalah politisasi agama. “Tahun 2024, Indonesia akan menghadapi Pemilu tetapi strategi kampanye sudah mulai terasa saat ini dan pasti ada saja kampanye yang membawa-bawa agama untuk menarik simpati masyarakat,” ungkapnya.
Dihadapan para peserta, Ace menegaskan untuk tidak terjebak terhadap politisasi agama, tetapi harus menjadi pihak netral dengan menjaga lingkungan masyarakat agar tetap kondusif dan aman sehingga tidak timbul perpecahan.
“Poin ketiganya yaitu masih banyaknya masalah atau kasus pendirian rumah ibadah, seperti beberapa hari yang lalu tepatnya di Purwakarta sempat terjadi masalah pembangunan gereja tetapi akhirnya bisa diselesaikan oleh Kementerian Agama,” ujar Ace.