BOGOR, (TB) – Kabar terbaru mengenai bangunan Eks Pendopo Kewedanaan Djasinga kini telah memasuki tahap finishing. Pantauan pewarta di lokasi, Kamis (1/5/2025) nampak para pekerja sedang menyelesaikan pemasangan genteng pendopo.
Sebelumnya, Bupati Bogor Rudy Susmanto menargetkan bangunan tersebut selesai dalam waktu 1 Minggu, pasca ia dan rombongan meninjau lokasi pembangunan Eks Kewaedanaan Pendopo Djasinga, Rabu (23/4) lalu.
Selain itu, beritasatoe.com mencoba menggali nilai-nilai history pada masa lalu tentang bangunan Eks Pendopo Kewedanaan Djasinga ini.
Saat diskusi dengan Dosen Universitas Indonesia, Akhir Matua Harahap di belakang Hotel Salak, Kota Bogor, Sabtu (29/3) lalu. Ia banyak menceritakan tentang wilayah Distrik Djasinga.
Menurut dia pada permulaan dibentuknya pemerintahan (Hindia Belanda) di Afdeeling Buitenzorg, Residentie Batavia yang dipimpin oleh seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Buitenzorg pembagian wilayah terdiri dari lima Distrik: Buitenzorg; Tjibinong, Parong, Tjibaroesa dan Djasinga (lihat Bataviasche Courant,04-10-1826).
Singkatnya, setelah ditetapkannya Djasinga sebagai Ibu Kota Distrik tahun 1826.
Selain itu, tercatat para pemilik land di Distrik Parong dan Distrik Djasinga mendirikan pasar. Paling tidak pada tahun 1829 telah terbentuk pasar Tjiampea, pasar Sading atau Leuwiliang dan pasar Bolang (lihat Javasche Courant, 15-12-1829).
Setelah beberapa dasawarsa sebagian wilayah District Parong dan sebagian wilayah District Djasinga dipisahkan dan kemudian disatukan dengan membentuk distrik yang baru yakni: District Leuwiliang. Sejak 1879 Distrik Leuwiliang terdiri dari, antara lain land: Tjiampea, Tjiboengboelan, Sading Djamboe dan Tjoeroek Bitoeng.
Selanjutnya, pada tahun 1908 dari lima distrik yang ada (Buitenzorg, Tjibinong, Paroeng, Tjibaroesa, dan Leuwiliang) dibentuk Onderdistrik yang dikepalai oleh Asisten Demang.