BOGOR, (TB) – Di bawah terik matahari pagi, sebuah mesin penggilas jalan bergerak perlahan di salah satu ruas jalan dalam kota Kabupaten Bogor, Jumat (13/6/2025). Asap tipis mengepul dari aspal yang baru ditambal, sementara beberapa pekerja terlihat bersandar di pinggir trotoar, beristirahat atau menunggu giliran. Sebuah dump truck tampak terparkir, mengangkut material yang belum sepenuhnya diturunkan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari proyek tambal sulam jalan yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor. Proyek ini dilakukan secara cepat. Namun, pertanyaannya, seberapa efisienkah pelaksanaannya?

Tim TUGASBANGSA.COM yang melakukan peninjauan langsung di lokasi menemukan sejumlah hal yang memerlukan perhatian. Koordinasi tenaga kerja tampak kurang terarah. Sebagian pekerja menganggur, sementara lainnya sibuk dengan tugas berat. Mesin penggilas bekerja tanpa pengawasan teknis yang tampak mencolok.

Kualitas tambal sulam juga menjadi sorotan warga. Rudi (38), warga yang melintas, menyebutkan bahwa jalan tersebut sudah pernah ditambal enam bulan sebelumnya. "Kalau cuma ditambal permukaannya, nanti juga balik lagi bolongnya pas musim hujan," ujarnya.

Tambal sulam memang sering menjadi solusi instan untuk memperbaiki jalan berlubang, terutama menjelang musim hujan atau akhir tahun anggaran. Namun, jika pelaksanaannya tidak melalui perencanaan dan pengawasan teknis yang matang, justru dapat berujung pada pemborosan dana publik.

Hingga berita ini diturunkan, pihak DPUPR Kabupaten Bogor belum memberikan pernyataan resmi terkait kualitas maupun efisiensi dari proyek yang tengah berlangsung tersebut.

Efisiensi proyek infrastruktur publik semestinya tidak hanya diukur dari kecepatan pengerjaan, tetapi juga dari kualitas hasil yang tahan lama, pemanfaatan anggaran secara optimal, serta pengawasan yang memadai.

Jika tidak, tambal sulam di jalanan Bogor hanya akan menjadi siklus berulang dari proyek cepat jadi—cepat rusak—yang membebani anggaran dan kenyamanan publik. (Sto)