PESAWARAN, (TB) - Serah terima proyek Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Desa Sindang Garut, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran, yang baru saja usai, justru menyisakan tanda tanya besar. Warga setempat meradang, mempertanyakan kualitas pekerjaan yang dianggap jauh dari harapan.
Proyek yang diserahterimakan pada Jumat (14/11) oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) bersama P3A, dan disaksikan oleh Penjabat Kepala Desa Sindang Garut, Yansura Istiawan, Selasa (18/11/2025), kini menjadi sorotan tajam. Benarkah ada yang tidak beres?
Kepala Desa Sindang Garut, Yansura Istiawan, mencoba memberikan penjelasan terkait perannya dalam proyek ini.
"Serah terima dilakukan oleh pihak BBWS dengan Ketua P3A Kuswoto dan saya hanya menyaksikannya. Soal pengajuan maupun realisasi anggaran saya tidak tahu menahu," kata Yansura.
Namun, pernyataan ini tak meredakan kekecewaan warga. Mereka menemukan banyak kejanggalan pada bangunan irigasi yang baru saja selesai dikerjakan. Retakan dan permukaan yang mudah rontok menjadi bukti nyata di mata mereka. Kecurigaan pun menguat: adakah campuran semen dan pasir yang tidak sesuai takaran?
Kekhawatiran warga mencapai puncaknya setelah mendengar penjelasan dari konsultan BBWS. Informasi yang mereka dapatkan mengindikasikan adanya ketidaksesuaian komposisi adukan material.
"Hasil bangunannya dipegang saja sudah rontok. Kami menduga ada mark up atau pengurangan kualitas," ujar salah satu warga dengan nada geram.
Kondisi ini tentu saja mengancam keberlangsungan irigasi dan masa depan para petani di Desa Sindang Garut. Bayangkan, irigasi yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, justru berpotensi menjadi masalah baru.
Warga kini menuntut keadilan dan meminta aparat penegak hukum (APH) untuk segera turun tangan melakukan investigasi.