RUMPIN, (TB) – Kondisi Jembatan Leuwiranji yang mengalami kerusakan parah kembali menuai sorotan warga. Pasalnya, meski kapasitas beban jembatan hanya 8 ton, hingga kini kendaraan angkutan tambang dengan bobot mencapai puluhan ton masih bebas melintas setiap hari.
“Bayangkan saja, konstruksi sudah rusak tapi tronton puluhan ton masih lalu lalang siang malam. Itu jelas sangat berbahaya namun tetap dibiarkan,” ujar Ridwan, warga sekitar, Minggu (24/8/2025).
Ketua Aliansi Gerakan Jalur Tambang (AGJT), Junaidi Adi Putra, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor segera mengambil langkah tegas sebelum terjadi kecelakaan fatal.
“Pemkab Bogor harus segera menutup akses Jembatan Leuwiranji dari aktivitas truk-truk tambang. Sehingga warga lebih merasa aman dan tidak dihantui potensi kecelakaan,” tegas Junaidi.
Menurutnya, terus dibiarkannya lalu lintas truk tambang hanya akan mempercepat kehancuran konstruksi jembatan yang membentang di atas Sungai Cisadane itu. Jika kerusakan semakin parah, aktivitas warga di Kecamatan Rumpin dan Gunungsindur yang bergantung pada jembatan tersebut akan terganggu total.
“Jembatan Leuwiranji ini akses vital. Kalau hancur, bukan hanya warga yang susah, tapi juga menghambat mobilitas ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Sebagai informasi, Jembatan Leuwiranji saat ini hanya berkapasitas maksimal 8 ton. Namun, dalam kenyataannya lebih dominan digunakan kendaraan tambang dengan muatan melebihi 30 ton. Kondisi ini membuat jembatan semakin kritis dan berisiko roboh jika tidak segera diantisipasi.
AGJT berharap Pemkab Bogor segera turun tangan dengan kebijakan nyata agar keselamatan warga tidak terus dipertaruhkan. (Rie/Sto)
Daerah
Install App
Tugasbangsa.com
Untuk pengalaman membaca berita yang lebih cepat dan nyaman, Install Aplikasi kami di Android Anda